Hujan rintik-rintik. Tanda hati yang sedang menangis. Jika hari nanti tidak akan terang. Apa yang akan kulakukan? Jika hari esok memang tidak akan ada lalu apa yang akan kuharapkan? Jika hari ini akan terus hujan.............................. Pengharapan pada diriku begitu tinggi. Aku tidak yakin bahwa itu mungkin akan terjadi. Jika waktu bisa berhenti berjalan dan memberiku waktu yang lebih banyak untuk berpikir, sehingga aku tidak akan kehilangan segala waktuku untuk berpikir.
Aku ini terbatas. Pada semuanya, namun yang kuinginkan tidak terbatas. Kepuasaan adalah hal yang sangat langka. Apa yang bisa kulakukan untuk memperolehnya. Orang bilang jangan cepat puas. Tapi aku selalu ingin cepat puas. Mengertikah kau kata-kata ku di atas???
Aku juga hanya mengawur. Hanya meratapi hidupku yang tidak siap menghadapi perubahan. Perubahan ini begitu cepat..... Orang yang dulu ada sekarang tidak ada. Tiba-tiba pergi untuk selamanya. Aku yakin tak ada yang mengerti perasaanku. Campur aduk. Semua kesialan datang kepadaku dan bahkan menjadikan hidupku layak disebut sinetron. Aku mau pergi dari dunia ini. Mau menyusul orang-orang di atas sana. Aku muak dengan senyum palsuku. Dengan segala kata-kata ceria yang keluar dari mulutku. Aku tidak percaya Tuhan itu ada, dulu aku percaya. Tapi sekarang aku ragu. Karena hidupku semakin buruk. Dulu ayah Ibuku bilang bahwa jika aku baik kepada orang lain, maka mereka juga akan baik kepadaku. Jika aku menghormati orang lain, mereka juga akan menghormati aku, jika aku mengerti orang lain, mereka juga akan mengerti aku. Tapi nyatanya tidak. Selesai sampai di situ. Aku jatuh dan terus jatuh. Jika hidup seperti ini. Lalu kenapa harus ada hidup?Siapa yang menciptakan jahat jika baik saja bisa menciptakan kedamaian? Ada orang yang mengatakan minum kopi saat hujan adalah surga. Kalau begitu kenapa harus ada surga? Minum kopi saja tiap hujan. Buat kopi 5 galon, dan minumlah sepuasmu. Hanya begitukah surga?
Aku berjalan di tepi taman, melihat senyum seorang bayi yang sedang bermain dengan orangtuanya, Begitu tulus. Aku hanya tertawa, dan membatin, “Kau belum tahu dunia ini anak kecil. Senyummu akan hilang diterpa waktu. “
Aku melihat di ujung jalan, seorang anak laki-laki bermain bola dengan ayahnya. Ayahnya tersenyum begitu lebar. Aku juga hanya membatin, “Pak, kau hanya punya waktu 4 tahun lagi sampai anakmu membantahmu dan neraka datang kepadamu.”
Dari ujung sana ada sebuah kertas melayang-layang menuju ke arahku. Kertas itu kutangkap dan kubaca: “Tuhan mencintaiku sebab aku penuh dengan kekurangan Karena tanpa kekurangan. Tidak akan ada pengorbanan Tidak akan ada kasih Dan tidak akan ada kelebihan Dia beri batu di jalanku.. Supaya aku tahu mengeja hidup dengan benar Sehingga aku tidak akan dipermalukan lagi Biar dunia mencemoohku dengan kekuranganku Dan hari memadatiku dengan rasa sakit Tapi aku bangga dengan kekuranganku Karena kekuranganku berharga” Aku kagum, tak bisa kupungkiri. Seseorang menghampiriku dan akupun bertanya, “Punyamu?”, dia tidak menjawab, malah tangannya bergerak-gerak. Kupikir dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak bisa, kemudian kusadari ternyata dia bisu. Dia mengambil kertasnya dari tanganku, Dan mengisyaratkan terima kasih, aku hanya tahu itu, seseorang telah mengajarkan kepadaku dulu. Jika memang aku harus bertahan dari terpaan badai yang semakin kuat seperti itu. Apakah aku bisa? Orang itu datang lagi. Mau apa lagi dia.... Diulurkannya satu carik kertas kepadaku tulisnya: Ulurkan tanganmu ke atas. Arahkan telapak tangan ke atas. Tangkap kasih Tuhan melalui percikan sinar mataharinya. Dia ada dalam hidup kita. Dia seperti matahari, yang bersinar bagi orang jahat dan baik. Menyinari kita dan akan selalu bersama kita. Walaupun mendung datang. Dia pasti muncul lagi, lewat hangat senyum mataharinya. Dia tidak pergi saat mendung, Dia hanya mencoba mendorong mendung pergi dari dirimu. Dia hanya mempersiapkanmu untuk jadi yang terbaik di akhirnya nanti. Senyumlah.... Kau disayangi..... Walaupun kadang menyebalkan, tapi jauh lebih menyebalkan jika orang yang kau sayangi tidak merasa disayangi. Mungkin rasanya lebih daripada kau yang mengerti tapi tidak dimengerti orang lain Berterimakasihlah kepadanya, lewat hembusan napasmu, lewat senyummu dan uluran tanganmu kepada orang lain. Pandang senyumnya dalam senyum anak kecil yang bermain dengan orangtuanya. Anak kecil itu bukan tidak tahu, hanya mencoba menikmati dan mensyukuri apa yang telah diberikan kepadanya. Tuhan berjuang untukmu... Kau tahu?? Lihat perjuangannya menghidupi kita dalam petani yang berpeluh karena bekerja di sawah. Dia tetap merawat padi, walaupun padi juga sering mengkhianatinya dengan gagal panen, atau bahkan rubuh terkena hujan. Dialah Kasih tak terhingga. tak terukur, dan tak terkira. Beranikah kita berjuang demi Dia, berhenti menangis dan meratapi hidup demi Dia, bertahan di dalam caci maki orang demi Dia. Jika pantai tetap bertahan saat dia diterjang ombak, maka kita pun bisa Kali ini gantian aku yang menjadi bisu........ |